MBG Dipertanyakan: Gratis, Tapi Jangan Sampai Mengorbankan Keselamatan Anak

- Penulis

Senin, 14 September 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

TOJO UNA-UNA – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan menyusul munculnya dugaan kasus keracunan yang dialami sejumlah penerima manfaat. Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan serius mengenai standar kebersihan, kualitas bahan makanan, hingga proses pengolahan dan distribusi makanan kepada para siswa.

Sejumlah faktor kini perlu ditelusuri secara menyeluruh. Salah satunya adalah kebersihan wadah dan peralatan yang digunakan dalam proses memasak. Wadah yang tidak dicuci secara sempurna atau tidak kembali dibersihkan sebelum digunakan berpotensi menjadi tempat berkembangnya mikroorganisme yang dapat mencemari makanan.

Tidak hanya peralatan, bahan makanan dan bumbu dapur juga perlu diperiksa. Pembelian bahan maupun bumbu instan dalam jumlah besar untuk mendapatkan harga lebih murah harus diimbangi dengan pengawasan terhadap masa kedaluwarsa dan cara penyimpanannya.

Bahan makanan seperti tahu, tempe dan daging juga harus dipastikan benar-benar segar ketika diolah. Penumpukan stok dalam jumlah besar dengan alasan efisiensi anggaran berpotensi menjadi persoalan apabila sistem penyimpanan dan pengawasan kualitas tidak dilakukan secara ketat.

Minyak goreng juga tidak boleh luput dari pemeriksaan. Apabila minyak digunakan berulang kali hingga kualitasnya menurun, hal tersebut perlu menjadi perhatian dalam standar pengolahan makanan untuk anak-anak.

Persoalan lain yang tidak kalah penting adalah kondisi dapur. Dapur yang tidak memenuhi standar kebersihan dapat menjadi sumber kontaminasi. Keberadaan tikus, semut maupun serangga harus dikendalikan, tetapi penggunaan racun tikus atau insektisida di sekitar area pengolahan makanan juga harus dilakukan dengan prosedur yang sangat ketat agar tidak terjadi kontaminasi.

Pertanyaannya kemudian: apakah seluruh proses tersebut benar-benar diawasi?

Jangan sampai efisiensi biaya justru mengorbankan kualitas dan keselamatan makanan yang dikonsumsi anak-anak.

Program MBG pada dasarnya merupakan program yang baik karena bertujuan membantu memenuhi kebutuhan gizi peserta didik. Namun, makanan gratis tidak boleh berarti makanan yang standar keamanannya lebih rendah.

Orang tua menyerahkan kepercayaan kepada pemerintah untuk memastikan makanan yang diberikan kepada anak-anak mereka aman, layak dan bergizi.

Karena itu, setiap dugaan kasus keracunan harus menjadi momentum untuk melakukan evaluasi total. Pemeriksaan tidak cukup hanya terhadap makanan yang sudah dibagikan, tetapi juga perlu mencakup bahan baku, tanggal kedaluwarsa, tempat penyimpanan, air yang digunakan, kebersihan peralatan, kondisi dapur, minyak goreng, proses memasak hingga distribusi makanan kepada siswa.

Pemeriksaan laboratorium juga penting untuk memastikan apa sebenarnya penyebab gangguan kesehatan yang dialami para siswa. Jangan sampai dugaan penyebab berhenti sebagai asumsi tanpa pernah diketahui fakta sebenarnya.

Jangan biarkan program yang seharusnya membangun kesehatan generasi muda justru menimbulkan kekhawatiran bagi orang tua.

Makanan sederhana yang disiapkan orang tua di rumah mungkin tidak semewah menu MBG, tetapi setidaknya orang tua mengetahui bahan yang digunakan, bagaimana bahan tersebut dicuci, bagaimana makanan dimasak dan bagaimana kebersihan dapurnya dijaga.

Program MBG harus mampu memberikan dua hal sekaligus: gizi dan keamanan pangan.

Sebab, bagi orang tua, tidak ada yang lebih penting daripada memastikan anak mereka pulang dalam keadaan sehat setelah menerima makanan yang seharusnya membantu tumbuh dan berkembang.

Jika ditemukan kelalaian, maka harus ada tindakan tegas dan perbaikan sistem. Jangan sampai demi mengejar efisiensi dan keuntungan, keselamatan anak-anak justru menjadi taruhan.

Pewarta: Ahmad Tuliabu

Berita Terkait

Pemko Dumai Sambut Rencana Beban Belanja PPPK Dialihkan ke Pemerintah Pusat
Janji Paisal 2020 dan 2024: Mana yang Sudah Terwujud, Mana yang Masih Ditunggu Warga Dumai?
Tim Taekwondo Padang Lawas Borong 18 Medali di Piala Wali Kota Sibolga
DPMPTSP Padang Lawas Dorong Pelaku Usaha Pahami Perizinan Berbasis Risiko melalui OSS
Hotspot Riau Turun Drastis, Tersisa 12 Titik Usai Hujan Mengguyur Sejumlah Wilayah
Warga Bukit Cahaya Gotong Royong Perbaiki Jembatan Kayu yang Mulai Lapuk
Banjir Genangi Sejumlah Wilayah Dumai, Pemko Soroti Kondisi Drainase
Satu IDI Terus Maju, Pengurus Baru Kuansing Didorong Mengabdi dengan Hati

Berita Terkait

Senin, 14 September 2026 - 03:32 WIB

MBG Dipertanyakan: Gratis, Tapi Jangan Sampai Mengorbankan Keselamatan Anak

Minggu, 13 September 2026 - 17:43 WIB

Pemko Dumai Sambut Rencana Beban Belanja PPPK Dialihkan ke Pemerintah Pusat

Minggu, 13 September 2026 - 15:34 WIB

Janji Paisal 2020 dan 2024: Mana yang Sudah Terwujud, Mana yang Masih Ditunggu Warga Dumai?

Minggu, 13 September 2026 - 14:49 WIB

Tim Taekwondo Padang Lawas Borong 18 Medali di Piala Wali Kota Sibolga

Minggu, 13 September 2026 - 11:18 WIB

DPMPTSP Padang Lawas Dorong Pelaku Usaha Pahami Perizinan Berbasis Risiko melalui OSS

Berita Terbaru