DUMAI – Di balik nama Kota Dumai, tersimpan sebuah kisah legenda yang diwariskan secara turun-temurun. Cerita tentang Ratu Cik Sima, tujuh putrinya, serta kesetiaan seorang anak bernama Mayang Sari, menjadi salah satu kisah yang hingga kini melekat dalam ingatan masyarakat.
Dalam legenda tersebut, dikisahkan bahwa pada masa Kerajaan Seri Bunga Tanjung, Ratu Cik Sima memiliki tujuh putri yang dikenal cantik. Putri bungsunya bernama Mayang Sari.
Suatu ketika, seorang pangeran jatuh hati kepada Mayang Sari dan bermaksud meminangnya. Namun, adat yang berlaku mengharuskan putri tertua menikah terlebih dahulu sebelum adik-adiknya. Karena ketentuan adat tersebut, pinangan sang pangeran akhirnya ditolak.
Penolakan yang Berujung Konflik
Penolakan itu membuat sang pangeran merasa tersinggung dan dipermalukan. Kemarahan kemudian berubah menjadi serangan terhadap Kerajaan Seri Bunga Tanjung.
Dalam situasi genting, Ratu Cik Sima berupaya menyelamatkan ketujuh putrinya. Mereka disembunyikan di sebuah tempat rahasia dengan persediaan makanan yang diperkirakan cukup untuk tiga bulan.
Sang Ratu kemudian berpesan agar mereka tetap berada di tempat persembunyian hingga keadaan benar-benar aman.
Namun, perang ternyata berlangsung jauh lebih lama dari perkiraan.
Janji yang Dipegang hingga Akhir Hayat
Ketika akhirnya keadaan kembali damai, Ratu Cik Sima datang untuk menjemput ketujuh putrinya.
Akan tetapi, pemandangan yang ditemuinya justru menjadi akhir paling memilukan.
Ketujuh putrinya telah meninggal dunia.
Mereka disebut tetap bertahan di tempat persembunyian karena memegang teguh pesan dan janji yang telah disampaikan sang ibu. Mereka menunggu hingga akhir hayat tanpa meninggalkan tempat tersebut.
Kesedihan Ratu Cik Sima pun pecah dalam ratapan.
“Duhai Mayang… Duhai Mayang…”
Ratapan terhadap putri tercintanya itulah yang dalam legenda masyarakat kemudian dikaitkan dengan lahirnya nama Dumai.
Antara Legenda, Ingatan, dan Identitas Kota
Terlepas dari perbedaan versi cerita yang berkembang di tengah masyarakat, kisah Ratu Cik Sima dan tujuh putrinya tidak sekadar menghadirkan cerita tentang asal-usul sebuah nama.
Di dalamnya terdapat pesan tentang kesetiaan, keteguhan memegang janji, hubungan antara anak dan orang tua, sekaligus akibat buruk dari kemarahan yang tidak terkendali.
Legenda tersebut menjadi bagian dari kekayaan cerita rakyat yang turut membentuk identitas budaya masyarakat Dumai.
Pesan Moral
Kesetiaan terhadap janji merupakan nilai luhur yang patut dihargai. Namun, kisah ini juga mengingatkan bahwa amarah yang tidak dikendalikan dapat membawa penyesalan dan duka yang jauh lebih besar daripada persoalan yang menjadi awalnya.
Sebuah nama kota pada akhirnya bukan hanya sekadar kata.
Di baliknya bisa tersimpan sebuah cerita, sebuah kehilangan, dan sebuah warisan ingatan yang terus hidup dari generasi ke generasi.






