Terkait Pencurian Buah Sawit, Kades Batang Kumu Normal Harahap Angkat Bicara

 

MEDIAPESISIR.COM, (ROHUL) – terkait isu yang beredar di media sosial ( Medsos) bahwa kepala Desa batang Kumu Normal Harahap menyuruh seseorang mencuri sawit di daerah perkebunan kelapa sawit Terlena,di dusun tujuh, Desa Batang Kumu, Kecamatan Tambusai, kabupaten Rokan hulu.akhirnya Ter jawab juga, Kades Batang Kumu angkat bicara Dia membantah dan dia tidak pernah  menyuruh seseorang mencuri dilahan orang itu akan tetapi dia adalah pemilik lahan yang sudah dikuasakan warga kepadanya, kata Normal Harahap pada awak media Sabtu Sore (14/05/2022) di kantor desa Batang Kumu.

Dikatakan normal bahwa permasalahan sengketa lahan antara warga di desa Batang Kumu sudah lama terjadi namun baru kali inilah bergejolak, dan saya yakin ini ada unsur politik nya dari pihak sebelah yang belum menerima kekalahannya pada Pilkades beberapa bulan yang lalu.

Dan saya sebagai Kades menyikapinya dengan lapang dada karena mereka yang menangkap 5 pelaku pemanenan sawit yang saya suruh itu adalah milik saya  bukan orang lain, namun mereka bersikeras menangkap tukang panen saya, dan sekarang sudah diaman kan di polres Rohul. Dan saya sampaikan juga bahwa mereka yang menangkap pelaku itu adalah bukan warga Desa Batang Kumu  akan tetapi warga luar yang didatangkan dari desa mahato km 40 dan daerah dusun Bondar desa Tambusai barat. Dan tidak ada satu pun dari desa saya , ungkap nya.

Dikatakan nya bahwa lahan sebanyak 65,7 hektar itu adalah lahan kelompok tani warga Batang Kumu sejak tahun 2014 ,dengan jumlah anggota sebanyak 15 orang. Tapi setelah panen beberapa tahun lalu kami di halang halangi seseorang yang bernama inisial ST dengan membawa 30 pereman kelahan perkebunan kami dan kami merasa tidak nyaman untuk memanen dan merasa takut kata warga kepada saya dan saya diberi kuasa untuk memanen sawit mereka, dan saya panen, dengan menyuruh anggota saya lima orang dengan membawa mobil Damtruk Bumdesa.

Lanjut Normal, Kalau saya mencuri tidak mungkin saya menyuruh anggota saya membawa mobil Bumdesa untuk manen buah, namun karena merasa tidak  mencuri lah saya menyuruh mereka, karena saya sudah memiliki surat kuasa lahan tersebut dari warga, dan bukti nya sudah ada ini katanya menunjukkan surat dari pemilik lahan warga itu.  dan itu pun sudah tiga bulan saya panen dan tidak ada satu pun warga Batang Kumu yang keberatan karen mereka tahu saya pemilik nya katanya.

Ditambahkan Normal di daerah terlena itu memang banyak permasalahan selain penjualan lahan dan juga ada bentuk peremanisme di sana dan pelakunya adalah orang luar kemudian ditambah lagi pungutan liar (Pungli) dengan cara memasang plang atau pos portal dipersimpangan dan warga yang memanen sawit sepulang dari pabrik harus bayar 10 sampai 50 rupiah perkilo kepada petugas ampang ngampang atau pos penjaga palang yang ada disana.

Dan di dusun tujuh daerah Terlena itu ada 7 persimpangan  pos  penjaga yang harus dilewati dan satu hari diperkirakan ada sekitar 500 sampai 700 ton buah sawit yang keluar, diperkirakan 5 sampai 9 mobil Damtruk untuk mengangkat buah sawit yang melintas di pos tersebut, Karena didaerah itu ada ribuan hektar lahan masyarakat Batang Kumu, makanya saya sebagai kades sudah membuat peraturan Desa atau perdes agar saya bisa menertibkan pungli yang sangat meresahkan masyarakat itu.

Dan saat ini kami sedang mengkonsultasikan dulu dengan bagian hukum dikantor Bupati baru nanti dalam bulan ini kami terapkan Perdes tersebut, dan ini tidak bisa dibiarkan katanya Karena kerugian masyarakat disitu sangat banyak, terangnya.

Ketika wartawan menanyakan sampai dimana upaya kepala desa dalam menangani pungli, dia menjawab bahwa beberapa bulan yang lalu sudah pernah kami panggil untuk datang kekantor desa namun dia tidak pernah mengindahkannya, dan melihat demikian masyarakat melaporkan para pelaku pungli itu ke Polres Rohul namun sampai sekarang belum ada tindak lanjut nya.

Kami berharap bapak bapak wartawan inilah yang bisa membantu kami untuk menyampaikannya kepada pihak polres agar mereka cepat menanggapinya atau merespon laporan masyarakat Batang Kumu, pintanya. (Kaliun Siregar).

Editor : Feri Windria

(Visited 43 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *